FayhooBlog

Justice League, Minus Sisi Kepahlawanan.

Saya kurang begitu mengerti dengan film ini, apakah fokus filmnya menceritakan tentang perlawanan sekelompok manusia super melawan penjahat, atau kelompok super hero yang jelas  untuk membela makhluk yang lemah dan tertindas, itu ada perbedaannya. Apa yang saya harapkan di film ini ternyata masih jauh dari sifat pahlawan yang berjuang untuk masyarakat, atau hanya sekedar embel-embel hero yang membela egonya sendiri, yang tidak mau kalah ketika ada penjahat datang.

Semula saya mengira film ini, tentunya akan lebih hebat melebihi film Batman: The Dark Night Rises, (sama-sama pahlawan DC Comic) yang kisahnya begitu heroik ikut membantu pembebasan para sandera yang dibuat lebih drama, sehingga penonton jadi ikut terbawa situasi adegan penyanderaan.

Atau seperti dalam film Avangers: Age of Ultron (Marvels), para Avanger yang harus berhadapan dengan dua pilihan, mengorbankan masyarakat yang terjebak di kota yang sengaja dibuat melayang, atau memenangkan egonya sendiri hanya demi melawan Ultron, tanpa harus peduli banyak korban yang akan berjatuhan.

Sayangnya greget heronya Justice League tersebut tidak kami jumpai, bahkan saat adegan superman mengangkat gedung, yang konon ceritanya berisi penduduk kota yang harus diselamatkan dari kehancuran, terlihat seperti menggangkat gedung kosong, dan hanya sura-suara teriakan masyarakat sebagai latar suaranya, tanpa memperlihatkan situasi sebenarnya dari kondisi masyarakat yang sedang terluka.

Di film ini hanya menampilan sosok keluarga kecil, yang harus diselamatkan bersama mobil pick-up nya oleh Flash dan bisa jadi adegan film ini terlalu panjang sehingga mengalami pemotongan untuk menyesuaikan durasinya dengan jam tayang bioskop,  kita tunggu DC mengeluarkan versi Blue-ray nya sehingga kecurigaan saya tersebut benar adanya.

Justice League memang film yang terbilang rumit pembuatannya, dengan karakter super hero yang tiba-tiba muncul tanpa memberikan pengenalan filmnya terlebih dahulu, berbeda dengan film-film  produksi Marvel yang terlebih dahulu melakukannya.

Salah satunya adalah Aquamen yang tentunya disini bukan cerita tentang si tukang angkut atau pengirim galon air kemasan, yang kabarnya filmnya bakal tayang tahun depan tayang dibioskop, saya pribadi kurang mengenal tokoh hero ini, dan apa ada hubunganya dengan Deni manusia ikan, atau apakah di Indonesia kurang begitu populer komik dan filmnya dibandingkan Wonder Women, Superman dan Flash yang sudah pernah tayang  di Tv Swasta era 90 an.

Jalan cerita film ini lumayan bagus saat diawal, tapi setelah masuk pertengahan film yang saya lihat cuma konflik antara hero dan sang musuh si Steppenwolf.  Tidak terlihat ada kepanikan masyarakat yang mengetahui dunia akan berakhir, seolah olah mereka dibuat tenang dan tak acuh dengan kondisi bahwa dunia mereka sebentar lagi hancur, sedangkan yang tahu kondisi sedang terancam cuma sebagian kecil masyarakat, seperti keluarga kecil yang berada di rusia dan selebihnya cuma para sandera yang kemudian terselamatkan.

Padahal kalau boleh dibilang kebangkitan Superman sendiri dari kematian, sudah seharusnya membuat seisi kota menjadi geger dan Daily Planet seolah-olah bungkam, mengenai kehadiran Superman tersebut walau sudah sempat ada pertarungan yang seru antara Hero yang lain dengan sang Superman di lokasi monumen.

Dari sini film ini menjadi kurang begitu menarik, karena cuma fokus dimana hero berusaha  bersatu melawan penjahat yang dibumbui aksi-aksi super heronya. berbeda saat saya melihat adegan Wonder Woman di awal film, berusaha membebaskan para sandera di gedung yang akan dipasangi bom begitu heroic.

Kekurangan-kekurangan Justice League bisa saja di maklumi, karena adanya proses perubahan sutradara, dari Zack Snyder ke Joss Whedon (sutradara Avangers) sehingga kemungkinan ada perbedaan pandangan mengenai pembuatan film tersebut meskipun Zack Snyder tetap hadir memberikan arahan,  dan juga satu kendala lagi mengenai kumis Superman yang tidak boleh kelihatan di film, sehingga harus menggunakan komputer grafis untuk mengenyahkannya, padahal kalau penonton mau fokus melihat filmnya, perhatikan pada area kumis superman pasti terlihat ada yang kurang pas pada wajahnya, ngeblur dan terlihat seperti manekin.

Ada pepatah tidak ada celana yang tidak berlobang, setiap film pasti ada titik kelemahannya, dan untungnya film ini bisa tertolong oleh aksi-aksi super para heronya yang lumayan seru, sebagai tontonan di akhir pekan, meskipun dari segi jalan ceritanya bisa dibilang kurang menyentuh.

Exit mobile version